Wednesday, June 19, 2013

Marah seperti bom jangka


Manusia itu dicipta dengan berbagai emosi dan perasaan. Sifatnya lemah dan mudah berputus asa. 
Saat dilanda ujian, manusia cepat sekali menobatkan emosi kekecewaannya di tempat teratas. 


Kita akan marah tak tentu pasal. Semua barang habis diterajang. Semua perkataan tertembak keluar. 
Seakan menidakkan ujian itu dari Allah ta’ala.

Masih ingat pada Surah Ali-Imran?

Ayat 139.
Allah Ta’ala berfirman,

“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (darjatnya), jika kamu orang yang beriman”

Bukan Allah tidak tahu hamba yang di ciptaNya. Bahkan Allah Maha Tahu. Dia tahu hambanya akan sentiasa merasa lemah. Akan sentiasa bersedih hati,bermuram durja.

Kasih Allah tiada gantinya. Lalu Dia turunkan sebaris ayat yang pastinya mengubat hati hambaNya. Menjadi penawar si penduka setia. Turun membawa berita gembira pada janji TuhanNya.

Kita yang lupa. Kita yang alpa.

Quran jarang sekali dibuka. Jauh sekali mentadabburnya.

Malu pada setiap makhluk tidak bernyawa. Saat-saat yang tidak terisi melainkan dengan Tasbih memuji TuhanNya, tahmid mensyukuri nikmatNya, Takbir membesarkanNya.

Kenapa entri kali ini bertajuk ‘bom jangka’? 




Bom jangka, Cuma menanti saat untuk meletup. Memusnahkan sekalian kelilingnya.

Manusia saat emosi marahnya menebal dalam jiwa, ia seperti bom jangka. Sedikit tercuit, silap terpotong, pasti akan meletup.

Sebab itu Nabi saw pesan. JANGAN MARAH.

Usah dipandang pada keadaan saat marah dihamparkan, tapi lihat hasil dari tindakan kemarahan itu.

Mungkin ada yang terluka. Bahkan pastinya akan ada yang kecewa.

Namun manusia itu sifatnya lupa. Lupa dengan ayat-ayat Allah. Lupa pada peringatan Nabi Saw.

Tanya diri.

Bila kali terakhir kita menyentuh Al-Quran?

Barangkali ia dihuni habuk-habuk dalam almari?

Atau dijadikan rumah serangga-serangga kecil?

Bila kali terakhir membacanya?

Bila? Dan bila?

Allahu rabbi.

Adakah membacanya bermusim? Tatkala Ramadhan berkunjung, maka senaskhah itu habis dikhatam dalam masa sebulan.

Malu pada Allah.

Tanya lagi pada diri.
Adakah kita sekadar membaca? Tidak mengambil apa yang diperkatakan dalam setiap ayat-ayat itu?

Pastinya kita akan terdiam. Terdiam kerana itu kita. Kita yang sekadar membaca, membaca dan membaca. Tidak ambil iktibar padanya.

Buktinya?
Berapa ramai yang membaca surah Al-Humazah namun masih terus-terusan mencerca, memaki dan mengumpat? 

Bukankah itu kita?

Berapa ramai yang membaca surah Al-Qiyamah namun masih leka dengan tawaran dunia?

Bukankah itu kita?

Benar. Itu kita.

Allahurabbi.
Allahu ghaffur.
Allahu ghaffur. 
Allahu ghaffur. 

Astaghfirullah. Saya yang menulis pasti akan Allah Tanya di akhirat. Pasti.

Tidak akan terlepas seorang anak adam dengan segala perbuatannya.
Kecil dibalas, besar dibalas. 

Kita butakan mata.
Kita pekakkan telinga. 
Kita bisukan mulut. 
Kita matikan hati. 

Allah memberi jawapan pada ayatnya dalam surah Ali- Imran,
Ayat 134
"Dan orang yang menahan kemarahannya dan orang-orang yang memaafkan kesalahan orang. Dan ingatlah Allah mengasihi orang-orang yang berbuat perkara-perkara yang baik.

Maafkan kesalahan insan.
Bimbang tidak terlepas dengan kita di dunia, bahkan masih ada yang tidak selesai dengan Allah di akhirat.








No comments:

Post a Comment